Text
Namaku Alam 1
Aku mengenal Bapak dari cerita-cerita Ibu, Yu Kenanga, Yu Bulan, dan Om Aji. Kenanganku tentang Bapak tetap samar-samar. Aku hanya punya sekelebat bayang-bayang, bagaimana dia sering menggendong dan memangku aku, anak lelaki bungsunya.
Segara Alam merupakan salah satu karakter ciptaan Leila S. Chudori yang meninggalkan kesan mendalam bagi para pembaca buku Pulang. Meskipun muncul nyaris di akhir cerita, Segara Alam berhasil merebut perhatian pembaca. Alam menjadi salah satu karakter yang membuat gemas sekaligus penasaran–siapa sih sesungguhnya pria yang sejak kecil dibebani sejarah yang kelam ini?
Ternyata sang penulis, Leila S. Chudori, juga memiliki perhatian khusus terhadap karakter Segara Alam yang kuat ini. Menjawab rasa penasaran para pembaca, kisah Segara Alam selengkapnya akan segera dapat kamu baca di buku Namaku Alam, yang mulai bisa kamu pesan di hari ini!
Nah, untuk kamu yang kangen atau penasaran dengan sosok Segara Alam, Gramin akan bawa kamu berkenalan dengan sang aktivis berkharisma di buku Pulang!
Segara Alam dan Kharismanya
Ada satu bagian khusus yang berjudul Segara Alam dalam buku Pulang karya Leila S. Chudori. Berbagi pusat cerita bersama Dimas Suryo dan Lintang Utara, tentunya karakter ini memancing pertanyaan. Siapakah sebenarnya Segara Alam? Mengapa ia memiliki peran yang begitu besar dalam hidup Dimas Suryo dan Lintang Utara?
"Segara Alam. Lelaki tinggi, berambut ikal, berkulit cokelat gosong karena jilatan matahari, dan berwajah kasar oleh bekas jenggot yang dicukur. Mungkin dia seorang atlet atau mungkin dia rajin berlari pagi, entahlah."
Lewat narasi Lintang, kita bisa sedikit banyak membayangkan bagaimana rupa Segara Alam. Bahkan lewat kata-kata, kehadiran Segara Alam membawa sebuah kesan kuat bagi pembaca. Kalau kamu membayangkan Segara Alam mirip seperti siapa nih di kehidupan nyata?
Alam sempat menuturkan sedikit kisahnya sebagai pembuka bab. Ia mengisahkan bagaimana ia hidup dengan menanggung "dendam" akibat keluarganya yang selalu didiskriminasi karena keterlibatan sang ayah dengan pihak yang dihitamkan sejarah. Dari kecil, Alam belajar untuk membela dirinya sendiri dari cercaan mereka yang menunjuknya dengan hina. Ia juga melindungi sang sahabat, Bimo, yang lebih banyak pasrah menerima penghinaan tersebut.
Akibatnya, Alam tumbuh jadi anak yang tempramental dan dipandang bermasalah. Ibunya bolak balik dipanggil ke sekolah karena kelakuannya yang tak layak. Meskipun sekolahnya sendiri keberatan mengeluarkan Alam yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dengan kemampuan photographic memory-nya. Namun, ingatannya yang tajam ini justru menyiksanya. Ia jadi mengingat segala-galanya yang ia alami, dan memperdalam perasaan dendamnya.
Dalam buku Pulang, kamu bisa mengintip sedikit seperti apa masa kecil yang harus dilalui Segara Alam. Pasti kamu penasaran kan seperti apa kehidupan Segara Alam?
Tidak tersedia versi lain